“Si Linggis” dari Desa Cidahu
Ia adalah salah seorang wali besar di Tanah Jawa. Sejak muda ia sudah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya yang sangat tajam setiap kali mengkaji ilmu-ilmu agama dengan pendekatan tasawuf.
Di Desa Cidahu, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1884, lahirlah seorang jabang bayi yang kelak menjadi ulama besar. Orangtuanya memberinya nama Abdul Fatah. Sejak muda ia sudah tertarik pada kehidupan rohaniah dengan menimba ilmu tarekat pada K.H. Sudja’i, guru mursyid Tarekat Tijaniyah, selama tujuh tahun sejak 1903.
Selama menjadi santri, Abdul Fatah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya terhadap berbagai ilmu agama yang sangat tajam. Terutama ketika ia menganalisis dengan menggunakan ilmu nahu dan saraf dengan pendekatan tasawuf. Ia suka belajar dengan membaca berbagai kitab, sehingga beberapa pelajaran yang belum sempat disampaikan oleh gurunya sudah ia kuasai.
Suatu hari, ia membaca ayat 17 surah Al-Kahfi, “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, dia termasuk orang yang diberi petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, dia sekali-sekali tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid.” Ia lalu bertanya kepada Kiai Sudja’i, “Siapakah wali mursyid yang dimaksud dalam ayat ini?” Kiai Sudja’i menjelaskan perihal wali mursyid sebagai guru tarekat, sementara mencari wali mursyid merupakan keharusan. Tapi, karena Kiai Sudja’i mengaku bukan wali mursyid, Abdul Fatah disarankan untuk mencari wali mursyidnya.
Maka berangkatlah Abdul Fatah mencari wali mursyid dengan mengunjungi para ulama di Jawa dan Sumatra. Karena belum menemukan, ia lalu mencarinya ke Timur Tengah, khususnya Mekah. Maka pada 1922 ia pun berangkatlah, dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Sampai di Singapura, kapal yang mereka tumpangi rusak. Terpaksalah ia bermukim di Negeri Singa itu. Ia tinggal di Kampung Watu Lima, kemudian di Kampung Gelang Serai, selama lima tahun. Di sanalah ia, suatu hari, bertemu Syekh Abdul Alim Ash-Shiddiqy dan Syekh Abdullah Dagistani, yang mengajarkan Tarekat Sanusiyah.
Pada 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, ia berangkat ke Mekah bersama beberapa jemaah haji Indonesia, seperti K.H. Toha dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, dan K.H. Sanusi dari Pesantren Syamsul Ulum, Gunungpuyuh, Sukabumi (lihat Alkisah edisi 17/III/2005, Khazanah). Selama di Mekah, Abdul Fatah bergabung dengan Zawiyah Sanusiyyah di Jabal Qubais, mengaji kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lima tahun.
Karena sangat alim, belakangan Abdul Fatah mendapat kepercayaan membaiat atau menalkin murid tarekat yang baru masuk. Selama belajar tarekat kepada Syekh Ahmad Syarif, ia sempat mengalami berbagai ujian. Suatu hari, ketika tengah mengajar, Syekh Ahmad Syarif mengamuk dalam majelisnya. Apa saja yang ada di dekatnya dilempar ke arah murid-muridnya. Semua muridnya lari berhamburan karena takut. Namun, ada seorang murid yang bergeming, tetap diam di tempat. Dialah Abdul Fatah.
Kursi Istimewa
Sebagai guru mursyid tarekat, Syekh Ahmad Syarif biasa duduk di kursi istimewa, dan tak seorang pun berani mendudukinya. Mengapa? Sebab, siapa yang berani mendudukinya, badannya akan hangus. Suatu hari Syekh Ahmad memerintahkan Abdul Fatah untuk menggantikannya mengajar. Maka dengan tenang Abdul Fatah duduk di kursi istimewa itu, tanpa ada kejadian apa pun yang mencelakakannya.
Akhirnya, pada suatu hari, Syekh Ahmad Syarif memanggilnya. Ia menceritakan, semalam Rasulullah SAW memerintahkan untuk melimpahkan kekhalifahan Tarekat Sanusiyah kepada Abdul Fatah Al-Jawi untuk dikembangkan di negerinya. Sejak itu Abdul Fatah mendapat gelar Syekh Akbar Abdul Fatah. Setelah itu, lebih kurang dua tahun kemudian, Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi pun wafat.
Pada 1930, Syekh Akbar Abdul Fatah pulang kampung dengan membawa ajaran Tarekat Sanusiyah, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tarekat Idrisiyah karena tiga alasan. Pertama, untuk berlindung dari tekanan politik kaum kolonialis Belanda. Kedua, kandungan ajaran kedua aliran itu sama, karena Idrisiyah juga merupakan anak Tarekat Sanusiyah, yang sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad bin Idris. Ketiga, untuk mendapatkan berkah Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafaz zikirnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Nabi Khidlir, yaitu Fi kulli lamhatin wa nafasin ‘adada ma wasi’ahu ‘ilmullah (.................)
Di Cidahu, Syekh Akbar Abdul Fatah menghadapi berbagai tantangan, baik dari penjajah Belanda maupun para jawara. Namun semua itu ia hadapi tanpa takut sedikit pun. Tiga tahun kemudian ia mulai mendirikan beberapa zawiah di beberapa tempat, terutama di Jawa Barat, masing-masing dilengkapi dengan sebuah masjid, Al-Fatah. Pada 1930, ia sempat berdakwah sampai ke Batavia, singgah di Masjid Kebon Jeruk, kini di kawasan Jakarta Kota. Ia juga sempat mengembangkan tarekat di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Suatu hari ia mengembangkan tarekat di Masjid Al-Falah di Batutulis, kini di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Di sana ia juga harus menaklukkan para jawara. Dan sejak itu syiar dakwah Islam terus berkembang. Banyak muridnya yang kemudian mewakafkan tanah untuk digunakan sebagai zawiah. Ia juga membangun sebuah asrama untuk tempat tinggal para santri dari jauh. Di tengah kesibukannya mengajar di Batavia, dua minggu sekali ia menyempatkan diri mengajar di kampung halamannya.
Pada 1940, karena pesantrennya di Cidahu sudah tidak bisa menampung jemaah, ia lalu memindahkannya ke Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya.
Sebagai wali, Syekh Akbar Abdul Fatah memiliki banyak karamah. Suatu hari, dalam perang kemerdekaan, pasukan Hizbullah, yang terdiri dari para santri pimpinan Syekh Akbar Abdul Fatah, dibombardir oleh pesawat Belanda. Namun, bom-bom itu tidak meledak. Apa pasal? Karena Syekh Akbar Abdul Fatah telah membekali para santrinya dengan air yang telah didoainya. “Air doa” sang wali inilah yang, atas izin Allah SWT, menangkal bom-bom penjajah kafir tersebut.
Perampok Arab
Suatu hari seorang nelayan terdampar sampai ke pantai Australia. Ia kemudian berdoa, “Ya Allah, mengapa Engkau asingkan aku yang lemah ini di sini? Padahal, aku hanya bermaksud mencari nafkah buat anak-istriku. Ya Allah, datangkanlah penolong.” Ketika itulah ia melihat seorang ulama bertubuh tinggi besar berpakaian serba putih. Tiba-tiba ia memindahkan perahu nelayan itu ke tempat asalnya. Setelah selamat, nelayan itu menawarkan ikan besar yang baru saja ditangkapnya kepada ulama penolongnya itu.
Dengan tersenyum, ulama tersebut berkata, “Aku tidak membutuhkan ikan itu. Jika engkau ingin menjumpaiku dan menjadi muridku, datanglah ke Pagendingan, Tasikmalaya.” Setelah itu ulama tinggi bear itu pun lenyap dari pandangan mata. Selang beberapa minggu kemudian, nelayan itu datang ke Pesantren Pagendingan. Di sana ia bertemu seorang ulama yang fisik dan gerak-geriknya persis seperti yang ia lihat di pantai Australia. Ia tiada lain adalah Syekh Akbar Abdul Fatah.
Karamah yang lain terjadi ketika Syekh Akbar Abdul Fatah berada di Mekah. Suatu hari ia ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW di Medinah. Membawa bekal secukupnya, bersama beberapa kiai dari Jawa, ia berjalan kaki menuju Medinah. Di tengah perjalanan, rombongan itu diadang perampok bersenjata lengkap. Rombongan peziarah itu terkepung oleh perampok yang mengendarai kuda dengan menghunus pedang. Syekh Akbar lalu memerintahkan rombongannya melepaskan apa saja yang ada di tangannya ke kanan dan kiri, sebagai kepasrahan seorang hamba yang lemah tak berdaya.
Sambil melepaskan apa yang dimiliki, Syekh Akbar berteriak dengan suara lantang, ”Ash-shalatu was salamu ‘alaika ya Rasulallah! Qad Dhaqat hilati, adrikni ya Rasulallah!” (Selawat dan salam serajahtera atas Tuan, wahai Rasulullah! Mohon lenyapkan rintangan jalan kami menuju engkau, wahai Rasulullah!). Ajaib! Kontan para perampok itu berteriak-teriak kesakitan sambil memegang leher mereka, “Ampun ya Syekh Jawa, ampun ya Syekh Jawa! Panas, panas!”
Pemimpin perampok itu lalu minta maaf, mohon dibebaskan dari siksaan. Maka Syekh Akbar pun mendekati dan menepuk pundak para perampok itu satu per satu. Barulah rasa sakit karena panas tak terkirakan di tenggorokan itu reda. Seketika itu pemimpin perampok menyatakan bertobat, dan bersedia mengantarkan rombongan ke mana saja. “Kalian adalah bangsa Arab yang berdekatan dengan kampung Rasulullah SAW, sedangkan kami datang dari negeri yang sangat jauh – tapi demi berziarah kepada Rasulullah SAW. Tidakkah kalian malu melakukan hal yang tidak terpuji ini? Sudah sepantasnya kalian lebih berbangga daripada kami, karena negeri kalian dikunjungi banyak orang dari seluruh pelosok negeri.”
Syekh Akbar Abdul Fatah wafat pada 1947 dalam usia 63 tahun, dimakamkan dalam kompleks Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Jalan Raya Ciawi Km 8, Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak itu pemimpin Tarekat Idrisiyah diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Dahlan. Pada 11 September 2001 Syekh Dahlan wafat, dan tongkat kepemimpinan tarekat diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan.
AST
Caption Foto:
Syekh Abdul Fatah. Berjalan kaki ke Medinah
Makam Syekh Abdul Fatah. Selalu ramai diziarahi
Masjid Al-Fatah di Jalan Batu Tulis, Jakarta Pusat. Markas Tarekat Idrisiyah
Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Tasikmalaya. Meneruskan tradisi salaf
“Sehubungan dengan masalah ilmu, ada empat macam manusia yang memperoleh pahala: orang yang bertanya, orang yang mengajarkan, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai ketiga-tiganya.” (HR Abu Nu’aim dari Sayidina Ali)
21 Februari 2008
Syekh Akbar Abdul Fatah
As Sayyid Al Habib Al Ustadz Muhammad bin Husein
Inilah ringkasan riwayat hidup As Sayyid Al Habib Al Ustadz Muhammad bin Husein bin Ali bin Muhammad Ba’abud Al Alawi Al Husaini yang berhubungan dengan nasab beliau, masa pertumbuhan beliau, keluarga beliau, masa pendidikan, serta jasa beliau di dalam mengajarkan Al-Qur’an, bahasa Al-Qur’an, hukum-hukum syariat islam, dan lain sebagainya. Semoga ALLAH SWT menjadikan ringkasan ini sebagai ‘ibroh yang bermanfaat bagi diri kita sekalian dan sebagai peringatan bagi anak cucu beliau serta para kerabat dan murid beliau, amin. Allohumma amin.
Nasab beliau dari pihak ayah :
Muhammad bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Zein bin Musyayakh bin Alwi bin Abdullah bin Al Mu’allim Muhammad Ba’abud bin Abdullah yang bergelar ‘Abud bin Muhammad Maghfun bin Abdurrahman Ba-buthoinah bin Ahmad bin Alwi bin Al Faqih Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi yang dikenal dengan ‘Ammul Faqih bin Syech Muhammad Shohib Mirbath bin Syech Ali Kholi’ Qosam bin Syech Alwi bin Syech Muhammad bin Alwi bin Syech Ubaidillah bin Al Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-‘Uroidhi bin Al Imam Ja’far As-Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Husein cucu Rasullullah dan buah hatinya bin Ali bin Abi Thalib wabnu Fatimah Az-Zahroh putri Rasulullah SAW.
Adapun nasab beliau dari pihak ibu adalah :
Muhammad bin Ni’mah binti Hasyim bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Aqil bin Syech bin Abdurrahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al Faqihil Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath dan seterusnya sampai akhir nasab yang tersebut diatas.
Sekilas tentang ayah beliau :
Al Habib Husein dilahirkan di “Bour”, Hadramaut pada tahun 1288 Hijriyah dari ayahnya Al Habib Ali, seorang yang alim dan Waliyullah yang merupakan salah seorang murid dari Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir dan Al Habib Abdullah bin Husein bil Faqih. Sedangkan ibunya adalah As-Syarifah Muzenah binti Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Ja’far Alaydrus yang berasal dari daerah Tarbeh, Hadramaut.
Ketika usia Al Habib Husein 3 tahun wafatlah ayah beliau yaitu pada tahun 1291 Hijriyah di ‘Ardh Kheleh, Bour, maka ibundanyalah yang memelihara beliau, adapun ibunda beliau wafat pada tahun 1322 Hijriyah di kota Sewun yaitu yang ketika itu Al Habib Husein telah berada di Jawa.
Al Habib Husein dibesarkan di Bour dan belajar ilmu pada guru-guru disana, terutama ialah Al Habib Zein bin Alwi Ba’abud. Pada usia 20 tahun Al Habib Husein menikah dengan As-Syarifah Syifa’ binti As-Sayyid Abdullah bin Zein Ba’abud, yang mana As-Syarifah Syifa’ tersebut wafat di masa hidup Al Habib Husein. Pada tahun 1318 Hijriyah, berlayarlah Al Habib Husein ke Jawa, Indonesia dan berdiam beberapa lama di rumah keponakan beliau Muhammad bin Ahmad bin Ali Ba’abud di Surabaya.
Dan setelah wafat keponakan beliau tersebut, Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Yahya menulis surat kepada Al Habib Husein yang ketika itu tinggal di Batu Pahat, Malaysia dimana isi surat itu meminta kepada Al Habib Husein untuk kembali ke Indonesia dan menikah dengan anak beliau yaitu janda dari keponakan Al Habib Husein sendiri As-Syarifah Ni’mah, agar supaya Al Habib Husein memelihara anak – anaknya yaitu Sidah, Abdurrahman dan Ahmad, oleh karena Al Habib Hasyim telah mengetahui kebaikan budi pekerti Al Habib Husein dan memilihnya untuk menjadi suami putrinya.
Maka datanglah Al Habib Husein ke Surabaya dan menikahinya, dan Allah SWT mengaruniai mereka berdua satu putra dan tujuh putri yaitu Muzenah, Alwiyah, Ruqoyyah, Muhammad, Nur, Maryam, Aminah, dan Aisyah. Al Habib Husein adalah seorang pedagang, beliau mempunyai sebuah toko dan mengirim barang-barang ke Sulawesi dan Kalimantan pada langganan-langganan beliau.
Cara hidup Al Habib Husein sangat sederhana, bersih, mengatur waktu sebaik-baiknya, tidur agak sore dan bangun tengah malam untuk bertahajud, di waktu pagi hari pergi ke toko sampai siang hari, beliau lazim sholat berjamaah di Masjid Ampel dan setelah sholat Maghrib beliau lazim mebaca Al-Qur’an dan Rotibul Haddad bersama anak-anaknya.
Beliau sangat memuliakan tamu yang datang padanya dan disaat lain beliau gemar membaca kitab-kitab atau menghadiri majlis pengajian Sayyidina Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya di Surabaya, begitu pula beliau banyak mendapat faedah ilmu dari mertuanya Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Yahya yang terkenal kealimannya, begitu juga daripada mufti Jakarta masa itu Al Habib Ustman bin Abdullah bin Yahya adik dari mertua beliau apabila datang dari Jakarta ke Surabaya tinggal di rumah beliau dan mengadakan majlis ta’lim dan pengajian selama ia tinggal di Surabaya, dan banyak lagi majlis pengajian atau rouhah para ulama yang beliau hadiri seperti majlis Al ‘Allamah As-Sayyid Yahya Al Mahdali Al Yamani, Majlis Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi, Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, Al Habib Ahmad bin Muhsin Al Haddar yang tinggal di kota Bangil, Majlis Al Habib Alwi bin Thohir Al Haddad mufti Johor, Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik, dan Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang Jakarta yang mana ia adalah juga sahabat beliau semasa menuntut ilmu di Hadramaut, rohimahumullahu ta’ala.
Ciri-ciri Al Habib Husein diantaranya ialah beliau berparas tampan dan berkulit putih, berhidung mancung dan berbadan tinggi, bersih pada badan dan pakaiannya. Akhlak beliau murah hati, jujur, kasih sayang terutama pada fakir miskin dan anak-anak kecil, beliau rajin di dalam berumah tangga serta menjunjung tinggi ahli ilmu, dan beliau sering kali berkata pada istrinya dan juga keluarga bahwa ia memohon kepada Allah dan mengharap supaya putra beliau yaitu Al Ustadz Muhammad menjadi seorang yang mengajarkan ilmu, yang mana ALLAH SWT telah mengabulkan do’a tersebut.
Al Habib Husein banyak berjasa diantaranya seringkali menjamin pendatang-pendatang baru dari Hadramaut, terkadang memberi uang tanggungan, beliau sering memberi hutang kepada orang yang membutuhkan lalu menghalalkannya, banyak bershodaqoh, menderma untuk masjid ampel, dab beliau adalah sebagai salah satu pengurus Madrasah Al Khoiriyyah Surabaya dan Robitothul Alawiyyah, yang mana beliau bekerja secara jujur dan ikhlas.
Pada malam Jum’at tanggal 3 Muharram 1376 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1956 pukul 10.20 Al Habib Husein pulang ke rahmatullah, banyak sekali para pengantar jenazah beliau dari dalam dan luar kota lalu disembahyangkan di Masjid Jami’ Lawang yang diimami oleh sahabat beliau Qodhi Arob di masa itu yaitu Al Habib Ahmad bin Gholib Al Hamid, dan dimakamkan di pemakaman Bambangan Lawang, rohimahullahu rohmatal abror.
Adapun ibunda Al Ustadz Muhammad yaitu As-Syarifah Ni’mah dilahirkan di Surabaya pada tahun 1288 Hijriyah dari seorang ayah yaitu Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Aqil bin Yahya, dan dari seorang ibu As-Syarifah Maryam binti Al Habib Abdurrahim bin Abdullah Al Qodiri Al Djaelani keturunan daripada As-Syech Abdil Qodir Al Djaelani.
Beliau adalah putri bungsu Al Habib Hasyim, beliau tumbuh di sebuah rumah yang penuh ilmu dan ibadah, yang mana ibunda beliau As-Syarifah Maryam mendapatkan ilmu dan ketaqwaan berkat pendidikan ayahnya Al Habib Abdurrahim yang telah membawanya ke negeri Haromain dan tinggal beberapa lama di Madinatul Munawwaroh dan perjalanannya ke sebagian jazirah arab diantaranya Negeri Baghdad, maka tumbuhlah As-Syarifah Ni’mah ini atas ketaatan dan ketaqwaan dan cinta ilmu, lebih-lebih lagi paman beliau Al Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya yang sering datang ke Surabaya dan tinggal di rumahnya menjadikan beliau bertambah ilmu dan cahaya.
Beliau sangatlah menjaga sholatnya dan bangun akhir malam, membaca Al-Qur’an dan dzikir-dzikir serta sholawat atas Nabi SAW, dan kebanyakan duduk-duduk beliau dengan para tamunya perempuan berisikan masalah-masalah agama, nasehat-nasehat atau membaca kitab-kitab, syair-syair dan hikayat-hikayat yang bermanfaat. Beliau sangatlah menjaga diri, bersih, murah hati dan membantu suaminya di dalam menerima tamu, bahkan setiap hari beliau membuat makanan-makanan untuk persiapan jika datang tamu, lalu jika tidak ada tamu yang datang beliau mengirimkan makanan tersebut ke Masjid yang dekat dengan rumahnya sebagai sedekah untuk anaknya yang telah meninggal dunia dan para kerabat beliau, khususnya kedua orang tua beliau.
As-Syarifah Ni’mah pulang ke rahmatullah pada pagi hari Jum’at pukul 06.40 pada tanggal 5 Jumadil Ula tahun 1358 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 23 Juni 1939 Masehi, dan dimakamkan di pemakaman Pegirian Surabaya di belakang makam ayahanda beliau Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Yahya, rohimahumullahu jami’an amin.
Demikianlah sedikit tentang kedua orang tua Al Ustadz Muhammad bin Husein Ba’abud
Adapun beliau Al Ustadz Muhammad dilahirkan di Surabaya daerah Ampel Masjid di sebuah rumah keluarga yang dekat dengan Masjid Ampel sekitar 20 meter, pada malam Rabu tanggal 9 Dzulhijjah tahun 1327 Hijriyyah. Menurut cerita ayahanda beliau bahwa ibunda beliau saat melahirkan beliau mengalami kesukaran hingga pingsan, maka ayahanda beliau bergegas mendatangi rumah Al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya yang memberikan air kepada ayahanda beliau untuk diminumkan pada ibunda beliau, maka setelah diminumkannya air tersebut, dengan kekuasaan Allah ibunda beliau melahirkan dengan selamat. Dan Al Habib Abu Bakar bin Yahya berpesan untuk dilaksanakan sunnah aqiqoh dengan dua ekor kambing tanpa mengundang seseorang pada waktu walimah kecuali sanak keluarga ibunda beliau saja, maka terlaksanalah walimah tersebut dengan dihadiri oleh Al Habib Abu Bakar bin Yahya, dan beliau pula lah yang memberi nama dengan nama “Muhammad” disertai dengan pembacaan do’a – do’a dan fatihaah dari beliau.
Al Ustadz Muhammad mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya dari masa kecilnya, lebih – lebih ayahanda beliau sedikit memanjakan beliau dikarenakan beliau adalah putra satu – satunya dan juga disebabkan firasat baik ibunda beliau terhadap beliau. Lalu pada saat umur beliau 7 tahun adalah masa beliau berkhitan, yang mana ayahanda beliau mengadakan walimah yang besar, dan setelah itu ayahanda beliau memasukkan beliau di madrasah Al Mu’allim Abdullah Al Maskati Al Qodir, hal ini sesuai isyaroh dari Al habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, akan tetapi beliau tidak mendapat banyak dari Al Mu’allim Al Maskati tersebut dan tidaklah lama masa belajar beliau disitu, kemudian ayahanda beliau memasukkannya di madrasah Al Khoiriyyah. Dan dikarenakan pada masa itu susunan pelajaran di dalam madrasah tidaklah seperti yang diharapkan, disebabkan oleh tidak adanya kemampuan yang cukup bagi para pengajarnya, maka beliau merasa tidak mendapatkan pelajaran kecuali hanya sedikit, akan tetapi setelah beliau berada di kelas 4 terbukalah hati beliau untuk ilmu, terutama setelah datangnya para tenaga pengajar dari Tarim Hadramaut, seperti guru beliau Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih dan Al Habib Hasan bin Abdullah Alkaf, ditambah dengan adanya guru-guru yang mempunyai kemampuan yang cukup seperti Al Habib Abdurrohman binahsan bin Syahab dan terutama oleh karena perhatian dari Al Arif billah Sayyidinal Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, yang mana Al Ustadz Muhammad merasakan berkat pandangan serta do’a-do’a beliau di dalam majlis-majlis rouhahnya, dimana Al Ustadz Muhammad sangatlah rajin menghadirinya, dan telah membaca beberapa kitab di hadapan beliau, juga bernasyid “Rosyafat” gubahan Al Habib Abdurrohman bin Abdullah bil Faqih dihadapan beliau bersama As Sayyid Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Yahya. Al Habib Muhammad Al Muhdor sangat menyayangi beliau dan sering kali mendo’akan beliau, maka ketika itulah beliau merasa mendapatkan futuh dan manfaat juga barokah daripada belajar ilmu. Berlangsunglah masa belajar beliau di kelas 6 sampai hampir 6 tahun, dan di tengah-tengah masa belajar itu beliau sering menggantikan tempat para guru-guru di dalam mengajar bilamana mereka berudzur untuk datang mengajar.
Dan daripada nasib baik bagi beliau yaitu pada akhir tahun ajaran tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 1343 Hijriyyah ketika para pelajar yang lulus menerima ijazah kelulusan yang dibagikan langsung oleh Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, beliau menerima ijazah dengan peringkat ke-satu dari seluruh pelajar yang lulus waktu itu, bersamaan dengan itu Al Habib Muhammad Al Muhdor menghadiahkan kepada beliau sebuah jam kantong yang bermerk “Sima”. Lalu Al Habib Muhammad Al Muhdor mengusap-usap kepala dan dada beliau sambil mendo’akan beliau ketika Al Habib Aqil bin Ahmad bin Aqil pengurus madrasah waktu itu memberitahukan bahwa Al Ustadz Muhammad tahun itu akan diangkat menjadi guru di Al Madrosatul Khoiriyyah. Setelah beliau menjadi guru di Madrosatul Khoiriyyah, disamping mencurahkan tenaga di dalam memberikan pelajaran pagi dan sore di madrasah beliau juga banyak sekali memberikan ceramah-ceramah di banyak tempat serta menterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia ceramah-ceramah para mubaligh Islam yang datang dari luar negeri seperti Ad Da’i As Syech Abdul Alim As Shiddiqi dari India dan yang selainnnya. Rohimahumullahu ta’ala.
Dan inilah diantara guru – guru beliau :
Di dalam tasawwuf dan tarikh ialah ayahanda beliau Al Habib Husein bin Ali Ba’abud, di dalam membaca dan menulis bahasa Arab As Syech Ali bin Ahmad Ba-bubay, di dalam Al Qur’anul karim As Syech Abdullah bin Muhammad Ba Mazru’, dalam bahasa Arab, Khot, Insya’, dan Hisab As Sayyid Abdurrohman binahsan bin Syahab, di dalam fiqih, tafsir, tasawwuf, nahwu, dan ilmu balaghoh Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih, di dalam fiqih dan tajwid Al Habib Hasan bin Abdullah Alkaf, di dalam nahwu dan hisab As Sayyid Ja’far bin Zein Aidid.
Selain guru-guru ini masih banyak lagi dari golongan para wali dan alim ulama yang beliau sering membaca kitab-kitab di hadapan mereka, dan kebanyakannya adalah kitab-kitab hadits, tasawwuf, dan kitab-kitab karangan para salaf Alawiyyin. Diantara para ulama tersebut adalah :
Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor dari Bondowoso, Al Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi Kwitang Jakarta, Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik, Al Habib Al Alamah Alwi bin Thohir Al Haddad Johor, Al Habib Thohir bin Ali Al Jufri, Al Habib Ahmad bin Tholibul Athos Pekalongan, Al Habib Abdurrohman bin Zein Ba’abud, dan Al Habib Zein bin Muhammad Ba’abud, rodhiallahuanhum.
Pada tahun 1348 Hijriyyah, tepatnya pada hari Kamis sore tanggal 22 bulan Robi’ust Tsani ayahanda beliau menikahkan beliau dengan As Syarifah Aisyah binti As Sayyid Husein bin Muhammad bil Faqih, walimatul aqad berlangsung di rumah ayahanda beliau, dan yang menjadi wali adalah saudara kandung As Syarifah Aisyah yaitu As Sayyid Syech bin Husein bil Faqih yang telah mewakilkan aqad kepada Qodhi Arob di Surabaya masa itu yaitu Al Habib Ahmad bin Hasan bin Smith. Sedangkan walimatul urs pada malam Jum’at 22 Robi’ust Tsani di rumah istri beliau di Nyamplungan gang 4 Surabaya. Allah SWT telah mengaruniai beliau pada pernikahan ini enam putra dan delapan putri.
Pada bulan Jum’adil Akhir tahun 1359 Hijriyyah bertepatan pada bulan Juli 1940 masehi, dengan kehendak ALLAH SWT beliau sekeluarga pindah dari Surabaya ke kota Lawang, dan dikota inilah beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren “Darun Nasyiien”, yang pembukaan resminya jatuh pada awal bulan Rojab 1359 Hijriyyah, bertepatan dengan 5 Agustus 1940 Masehi. Yang mana pondok tersebut mendapat perhatian oleh banyak orang dari Jawa dan luar Jawa, serta memberi hasil dan barokah, alhamdullillah.
Mula-mula tempat untuk madrasah adalah di jalan Talun timur pasar Lawang, yang sekarang berubah namanya menjadi jalan Pandowo, dan setelah beberapa bulan berpindah pula ayahanda beliau dari Surabaya ke Lawang dan tinggal bersama-sama beliau, yang mana menambahkan barokah bagi rumah dan pondok beliau. Dan pada waktu penjajahan Jepang sampai awal masa kemerdekaan berpindah-pindahlah beliau dari satu tempat ke tempat yang lain di daerah sekitar kota Lawang, seperti Karangsono, Simping, dan Bambangan yang ketika itu terjadi serangan penjajah Belanda atas kota Malang. Walhamdulillah pada masa-masa berubah-ubah pemerintahan, pelajaran tidak terputus kecuali pada waktu penjajahan Jepang sekitar 17 hari karena penjajah Jepang pada waktu itu memerintahkan untuk menutup madrasah-madrasah ketika mereka menduduki suatu daerah, lalu ketika kembalinya penjajahan Belanda yang kedua terpaksa beliau menutup madrasah demi keamanan selama 3 bulan saja. Dan semenjak 1 April 1951 beliau sekeluarga pindah ke jalan Pandowo yang beliau diami sampai akhir hayat beliau, yang tepat dibelakangnya terdapat pondok pesantren dengan bangunan yang cukup baik untuk para pelajar yang tinggal, dengan kamar-kamar dan musholla bernama “Baitur Rohmah”, serta kelas-kelas, dan yang telah mengurusi pembangunan serta mengarsiktekturinya adalah putra beliau Al Ustadz Ali bin Muhammad Ba’abud.
Banyak sekali para pengunjung daripada ulama dan orang-orang sholeh ke rumah serta ke pondok beliau, diantara mereka adalah Al Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi Jakarta, Al Habib Zein bin Abdullah bin Muhsin Al Athos Bogor dan saudaranya Al Habib Husein, Al Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid Tanggul, Al Habib Alwi bin Ali Al Habsyi Solo, Al Habib Alwi bin Abdullah Al Habsyi Barabai Kalimanatan, Al Habib Husein bin Abdullah Al Hamid Tuban, Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih Malang, Al Habib Abdullah Umar Alaydrus Surabaya, Al Habib Ali bin Husein Al Athos, Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah, Al Habib Salim bin Abdullah As Syathiri Tarim, As Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al Maliki Makkah, dan banyak lagi selain mereka yang hal itu semua adalah membuahkan keberkahan Insya ALLAH Ta’ala.
Dan setelah ayahanda beliau wafat, ALLAH SWT mengilhami beliau untuk mengadakan rouhah atau majlis ta’lim pada tiap hari Kamis sore yang ditutup dengan bacaan tahlil atas arwah ayah bunda beliau untuk memperingati mereka berdua serta dengan tujuan memberi manfaat kepada para santri beliau dan selain mereka daripada para pecinta ilmu dari dalam dan luar kota, maka ketika As Sayyid Al Arif billah Al Habib Muhammad bin Umar Alaydrus Surabaya mendengar tentang hal itu beliau sangat gembira seraya mendo’akan untuk Ustadz Muhammad dan majlisnya. Maka dengan rahmat Allah SWT rouhah tersebut telah berlangsung selama 36 tahun di masa hidup beliau dan telah memberi kesan yang sangat baik.
Pengajian rouhah tersebut adalah rouhah yang berbarokah dengan dalil sebagian mimpi-mimpi dari sebagian keluarga dan selain mereka, yaitu bahwa rouhah dan sebagian majlis-majlis yang lain dihadiri oleh An Nabi SAW dan arwah para salafus sholeh, dimana terdapat tanda-tanda yang menunjukkan tentang hal itu, walhamdulillah.
Pada hari Rabu pagi jam 10:20 tanggal 18 Dzulhijjah tahun 1413 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 9 Juni 1993 beliau pulang ke rahmatullah SWT, ayahanda dan guru kami tercinta Al Ustadz Muhammad bin Husein Ba’abud. Almarhum disembahyangkan di pondok pesantren beliau pada keesokan harinya yaitu hari Kamis dan diantar jenazahnya oleh banyak orang ke pemakaman Bambangan Lawang dan dimakamkan beliau disamping makam ayahanda beliau.
Inilah yang diwasiatkan oleh hamba yang faqir kepada rahmat ALLAH SWT Muhammad bin Husein Ba’abud sesuai dengan yang diwasiatkan oleh Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir kepada istri-istrinya dan dzuriyatnya laki-laki dan perempuan selama turun temurun, wasiat ini teruntuk mereka dan untuk siapa saja yang mendengarnya, yaitu :
* Hendaknya mereka menjalankan sunnah-sunnah nya atau perilaku atau perjalan penghulu daripada utusan ALLAH SWT, yaitu Sayyiduna Muhammad SAW, dan juga supaya mengikuti sunnah dan perjalanan para kholifah yang mendapat petunjuk al-khulafaur rosyidin, kesemuanya ini sesuai dengan firman ALLAH SWT dan berdasarkan sabda Rasulullah SAW .
Barangsiapa tidak mampu menjalankan semuanya itu maka setidak-tidaknya janganlah keluar atau menyimpang daripada jalan ataupun petunjuk para salafus sholeh yaitu para leluhur kita yang sholeh serta terbukti kewaliannya. Dan barangsiapa belum mendapat jua taufik hidayat untuk itu semua maka paling tidak hendaknya ia meneladani kepada saya, yaitu meneladani di dalam hal ibadahku juga kholwatku, dan di dalam menjauhkan diri dari kebanyakan orang bersamaan dengan perlakuanku yang baik terhadap anak kecil dan orang besar laki-laki dan perempuan jauh maupun dekat tanpa harus sering berkumpul atau banyak bergaul, dan tanpa harus saling tidak peduli ataupun saling benci-membenci.
* Hendaknya sangatlah berhati-hati di dalam bermusuhan dan berselisih ataupun berkelahi dengan siapa saja, di dalam apa saja dan bagaimanapun juga.
* Bagi yang telah mengalami saya diantara kalian maka janganlah tidak meneladani kepada jalanku yaitu di dalam hal-hal yang sifatnya terpuji, janganlah lebih sedikit dari itu.
* Dan aku wasiatkan kepada mereka semua untuk selalu memohonkan kasih sayang rahmat ALLAH atas diriku serta memohonkan ampun dengan membacakan istighfar untukku sesuai dengan kesanggupannya masing-masing pada setiap waktu dan lebih-lebih di dalam hari-hari As Syuro dan hari-hari di bulan Rojab dan di bulan Romadhon serta bulan Haji dan pada bulan dimana pada bulan dimana ALLAH SWT mentakdirkan akan wafatku, dan barangsiapa diluaskan oleh ALLAH atasnya dan dimudahkan atasnya untuk bershodaqoh maka hendaknya bershodaqoh untukku dengan apa-apa yang ringan atasnya sedikit atau pun banyak khususnya di dalam waktu-waktu yang lima ini. Dan aku mengizinkan bagi siapa saja yang hendak berhaji atau umroh atas diriku, dikerjakan oleh dirinya sendiri ataupun mengupahkan kepada orang lain sesungguhnya perbuatan itu dilipat gandakan oleh ALLAH SWT 10 kali lipat, ALLAH jua lah yang dapat menolong seseorang untuk berbuat kebajikan, semoga ALLAH SWT memberikan pertolongannya bagi diri kita sekalian untuk berbuat baik.
* Kemudian aku juga berpesan kepada kalian untuk mempererat tali silaturahmi yaitu ikatan kekeluargaan, karena sesungguhnya silaturahmi itu sangat memberi pengaruh terhadap keberkahan harta dan rezeki dan salah satu penyebab dipanjangkannya umur, silaturahmi itu menunjukkan keluhuran budi pekerti dan tanda-tanda seseorang mendapat kebaikan di hari kemudian. Maka hati-hatilah kalian daripada memutuskan tali persaudaraan, karena sesungguhnya perbuatan itu sangatlah keji juga siksanya sangatlah pedih, seseorang yang memutus silaturrahim itu terkutuk berdasarkan dalil Al Qur’an, orang yang memutus adalah pertanda orang yang lemah iman, orang yang memutus tidak akan mencium bau surga, orang yang memutus maka kesialannya menular kepada tetangga-tetangganya, maka sambunglah tali persaudaraan kalian wahai saudara-saudaraku karena sesungguhnya tali rahim itu bergantung pada salah satu tiangnya singgasana ALLAH yang Maha Pengasih.
* Dan saya berpesan pula kepada diri saya dan kepada orang-orang yang tersebut tadi agar supaya banyak beristikhoroh dan musyawarah di dalam segala urusan dan hendaknya selalu mengambil jalan yang hati-hati, walaupun pada hakekatnya berhati-hati itu tidak dapat meloloskan seseorang daripada ketentuan ALLAH dan takdir-NYA, akan tetapi menjalankan sebab-sebab tidaklah boleh ditinggalkan, justru oleh sebab itulah wasiat atau pesan-pesan dan nasehat-nasehat itu diperlukan dan dianjurkan, oleh karena hal itu semua adalah salah satu segi dari sebab-sebab di dalam mengajak orang kepada ALLAH dan mengajak untuk menuju kebahagiaan serta keselamatan di dunia dan akhirat.
Semoga ALLAH SWT mencurahkan kasih sayangnya terhadap orang-orang yang suka bernasehat dan membalas mereka dengan kebaikan yang banyak, dan semoga ALLAH Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan segala apa yang mereka katakan.
—
Itulah sekilas tentang salah satu dari waliyullah. Hidupnya digunakan untuk mensyiarkan kebenaran Islam.
Semoga ALLAH memunculkan kembali para wali - wali-NYA yang dapat menuntun manusia menuju kebenaran jalan-NYA.
Amiin.
Al-Habib Ali Bin Abdurahman Al-Habsyi
Silsilahnya adalah Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad ( Shohib Syi’ib ) Al-Habsyi. Beliau dilahirkan di Kwitang pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil Akhir 1286 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 20 April 1870 M. Ayahnya, Habib Abdurahman Alhabsyi kelahiran Semarang kemudian pindah ke Jakarta dan menikah dengan Hajjah Salmah seorang puteri Betawi Asli yang berasal dari Jatinegara. Habib Abdurahman Alhabsyi wafat di Jakarta pada tahun 1296 H dan dikuburkan di Cikini, sedangkan Hajjah Salmah wafat tanggal 2 Rajab 1351 Hijriyyah, dikuburkan di Tanah Abang .
Setelah Habib Ali berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia, tidak lama kemudian Habib Ali dikirim belajar ke Hadramaut sesuai wasiat ayahandanya, Guru-gurunya di Hadramaut adalah :
1.Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
2.Habib Ahman bin Hasan Al-Atthas
3.Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus
4.Habib Zein bin Alwi Ba’bud
5.Syekh Hasan bin Awadh bin Mukhaddam
Selain itu Habib Ali menghadiri majelis ilmu Al-Habib Abdurahman bin Muhammad Al-Masyhur mufti Al-Diyar Al-Hadramiyah, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwi Alaydrus serta Al-Habib Alwi bin Abdurahman Al-Masyhur. Pada tahun 1300 Hijriyah Habib Ali menghadiri majelis Maulid yang diselenggarakan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Pada saat itu hadir pula Al-Habib Al-Quthub Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor beserta anak-anaknya.
Pada tahun 1303 Hijriyah, Habib Ali Pulang ke tanah air setelah bermukim selama 6 tahun. Ketika berada di Indonesia, umur beliau 16 tahun dan melanjutkan belajar kepada :
1.Habib Usman bin Abdullah bin Yahya
2.K.H.Abdul Hamid, Jatinegara
3.K.H.Mujtaba bin Ahmad, Jatinegara
4.Habib Muhammad bin Alwi Al-Shulaibiyah Alaydrus
5.Habib Salim bin Abdurahman Al-Jufri
6.Habib Husin bin Muchsin Al-Atthas
7.Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas, Bogor
8.Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas, Pekalongan
9.Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Bondowoso
10.Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
11.Habib Ahmad bin Muchsin Al-Hadar, Bangil
Setelah usia mencapai 20 tahun Habib Ali menikah dengan Hababah Aisyah keluarga Al-Saqqaf dari Banjarmasin. Pada tahun 1311 Hijriyah, Habib Ali Berangkat Ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji serta menuntut ilmu kepada :
1.Syech Muhammad Said Babshil
2.Habib Umar bin Muhammad Syatha’
3.Musyayikh Umar bin Abi Bakar Bajunaid
4.Habib Abdullah bin Muhammad Sholih Al-Zawawi
5.Syekh Umar Hamdan Al-Mghribi
Di Kota Madinah Al-Munawwaroh beliau belajar kepada : Habib Ali bin Ali Alhabsyi, Habib Abdullah Jamalullail ( Syekh Al-Asaadah ) dan Syekh Sulaiman bin Muhammad Al-Azab, anak dari pengarang kitab Maulid Azab.
Harumnya nama Habib Ali menjadi pembicaraan ramai. Kemasyhuran habib Ali tersebut sampai dibuatkan syair oleh beberapa pujangga di antaranya : Habib Muhamnmad Al-Muhdor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syekh Fadhil Irfan, Soleh bin Ali Al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf dan Syekh Yusuf bin Ismail Al-Nabhani pun memasukkan nama Habib Ali dalam kitabnya yang bernama Jami’ Karamat Al-Auliya juz 2 halaman 362. Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi wafat tanggal 23 Oktober 1968, dimakamkan di Masjid Arriyadh yang dipimpinnya sejak ia masih muda, ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis ta’lim tempat ia mengajar.
Sumber dari Buku Menelusuri Silisilah Suci Bani Alawi–Idrus Alwi Almasyhur
Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan
Orator ulung ini rajin menyampaikan taushiah di sejumlah majelis taklimdi Indonesia. Dialah Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan, sang
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah, Tangerang, Banten
Wajah dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal oleh kalangan habaib dan muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya kini menginjak 30 tahun. Tapi reputasinya sebagai ulama dan mubalig sudah diakui oleh kaum muslimin di Indonesia. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis-majelis haul dan maulid yang digelar di berbagai tempat; seperti Gresik, Surabaya, Solo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung,Palembang, Pontianak, Kalimantan, hampir berbagai daerah di negeri ini sudah dirambahinya.
Bakatnya sebagai dai memang bukan tidak saja karena dia adalah cucudari Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, "Singa Podium" dan seorang pejuang dakwah di Betawi pada tahun 1906 - 1969. Dai yang satu ini memang sedari kecil telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius. Wajar, jika agamanya pun cukup mendalam. Wajah ulama muda yang saleh ini tampak bersih, tutur katanya halus, dengan gaya berceramahnya enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukan para pendengarnya. Seperti kebanyakan habib, ia pun memelihara jenggot, dibiarkannya terjurai.
Dialah Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan bin Syekh Abubakar, salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Habib Jindan bin Novel juga dikenal sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. "Ketika dia menerjemahkan taushiah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar," tutur seorang habib diJakarta.
Lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10 Muharram 1398 atau 21 Desember 1977, sejak kecil ia selalu berada di lingkungan majlis taklim dan sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama. "Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis taklim di
Jakarta oleh saya punya Abah, yakni Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan habaib yang termasyhur," kenang Bapak 5 anak (4 putri, 1 putri) ini kepada alKisah.
Bisa dimaklumi, sebab ayahandanya memang dikenal sebagai mubalig yangtermasyhur pula. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama. Pada umur dua tahun, ia bersama keluarganya tinggal di Pasar Minggu bersebelahan dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad (PasarMinggu).
Lepas itu, pada umur lima tahun ia juga pernah dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein Ba'bud dan putranya, yakni Habib Ali bin Muhammad
bin Husein Ba’abud, tepatnya di kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). "Di Lawang, sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama disana dibilang mengaji, tidak juga. Tapi berkah dari tempat itu selama setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang," ujarnya dengan senyum khasnya.
Menginjak umur 6 tahun ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur, pria berkacamata ini mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah Madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti di Bungur.
Ia kemudian melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Madrasah Jami’atul
Kheir, Jakarta hingga tingkat Aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami'atul Kheir, banyak guru-guru yang mendidiknya seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, KH. Sabillar Rosyad, KH.Fachrurazi Ibrahim, Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan lain-lain.
Sejak muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada Habaib dan Ulama di Jakarta,seperti di Madrasah Tsagofah Islamiyah yang diasuh oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya Ust AbuBakar Assegaf. Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senin, Jakpus) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi dengan ustadz-ustadz setempat.
Selain itu pada sore nya ia juga sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis Taklim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majlis itu, banyak habaib dan ulama yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama seperti Habib Abdullah Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib Muhammad Mulakhela Ustadz Hadi Jawwas dan lain-lain.
Beruntung, karena sering berada di lingkungan Kwitang, sehingga ia banyak berjumpa para ulama-ulama dari mancanegara yang datang ke Kwitang, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan masih banyak lainnya.
Pada setiap hari Minggu pagi, ia selalu hadir di Kwitang bersama Abahnya, Habib Novel bin Salim bin Jindan yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar tahun 1993, ia bertemu pertama kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Minggu pagi. Pertemuan kedua terjadi terjadi saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jamiat Kheir. Saatitu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulakhela dan UstadzHadi Assegaf.
Uniknya, satu-satunya kelas yang dimasuki oleh Habib Umar adalah kelasnya, padahal di Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan kepada Habib Umar, kalau dirinya juga bermarga bin Syekh Abu Bakar bin Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.
Saat itulah Habib Umar tersenyum dengan khasnya sambil memandang Habib Jindan. Itulah perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang kelas yang masih terkenangnya sampai sekarang.
Sejak itulah hatinya tergerak untuk belajar ke Hadramaut. Pernah suatu ketika ia akan berangkat ke Hadramaut, namun sayang, sang pembawa Habib Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas) meninggal. Pernah juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi salah satu saudaranya sakit. Hingga akhirnya dalam keputusasaan tersebut, tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi, Condet) datang ke rumahnya mengabarkan kalau Habib Umar bin Hafidz menerimanya sebagai santri.
Lalu ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30 orang santri. Diantaranya yakni Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas dan lain-lain. Ia kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadramaut. "Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim, kami tinggal di rumah Habib Umar, " tuturnya.
Baru dua minggu di Hadramaut, pecah perang antar saudara di Yaman berkecamuk. Memang, situasi perang tidak terasa di lingkungan Pondok, karena Habib Umar perang atau tidak perang, ia tetap mengajar murid-muridnya. Dampak perang saudara ini dirasakan oleh seluruh penduduk Yaman, dimana listrik mati, gas minim, bahan makanan langka. "Terpaksa kita masak dengan kayu bakar," katanya.
Baginya, Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi. "Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang tak kenal lelah," tambahnya.
Saat itu Darul Musthofa memang belum berdiri seperti sekarang, situasi yang serba terbatas. Walau pun situasi yang susah, itu sangat mengesankan baginya. Dahulu para santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman Habib Umar. Sedangkan pelajaran taklim selain diasuh sendiri oleh Habib Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis-majelis taklim yang biasa di gelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba'alwi, Taklim di Zawiyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadramaut), belajar Ihya di Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti Tarim, yakni Syeikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal dan lain-lain.
Selama mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan dengan salah satugurunya itu. "Beliau dalam mengajar tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar Beliau mengomel atau memaki-maki kita. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih tahu. Selain itu, Habib Umar terkenal sangat istiqamah dalam hal apa pun," katanya.
Habib Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik santri-santrinya bisa berdakwah, para santri mendapat pendidikan khusus untuk memberikan taushiah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh masing-masing santri dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh menit. Latihan kultum, itu juga menjadi saling menasehati antar santri. Setelah satu tahun menjadi santri ada program dakwah tiga hari sampai seminggu bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.
Setelah selama kurang lebih 4 tahun, sekitar tahun 1998 ia pulang ke Indonseia bersama dengan rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa murid-muridnya. Perlu diketahui, angkatan pertama ini hampir 98% semua dari Indonesia, hanya dua - tiga orang dari santrisetempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk mempersiapkanacara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.
Saat pertama kali pulang, ia oleh sang Abah diperintahkan untuk berziarahdengan para Habaib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Ada beberapa pendorong dan memberikan motivasi dirinya untuk berdakwah, seperti sang Ayahanda, Habib Novel bin Salim bin Jindan, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf dan Habib Anis Al-Habsyi.
Menurutnya; masukan, didikan, motivasi oleh sang Abah memang ia rasakan. "Ikhlaslah dalam berdakwah. Yang penting, apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati," kata Habib Jindan menirukan Abahnya. Habib Novel bin Salim bin Jindan (alm) memang dikenal sebagai orator ulung sebagaimana abahnya yakni Habib Salim bin Jindan.Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yangtangguh.
"Kalau ceramah jangan terlalu panjang.Selagi orang lagi asyik, kamu berhenti. Jangan kalau orang sudah bosen, baru berhenti, nanti banyak audiens kapok mendengarnya. Lihat situasi dan keadaannya, sesuaikan dengan materi ceramahnya dan waktu ceramahnya. Lihat, kalau disitu ada beberapa penceramah, kamu harus batasi waktu berceramah dan bagi-bagi waktunya dengan yang lain". Sampai masalah akhlak dan sopan santun dengan semua orang diajarkan, itu kesan dan masukan dari Abahnya, Habib Novel bin Salim bin Jindan kepadanya.
Selain berceramah, ia bersama sang adik, Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan dan adik-adiknya yang lain sekarang waktuya banyak dicurahkan untuk mengasuh pondok pesantren Al-Fakhriyyah yang terletak di Jln. Prof. Dr. Hamka, Kp. Gaga, RT 001 RW 04 No. 1 Larangan Selatan, Ciledug.
Habib Muhammad bin Husein Ba'Abud
Semua orang pasti mengenal Pesantren Darun Nasyiien yang didirikannya di Lawang, Malang. Pondok Pesantren ini adalah pesantren kaum habaib yang pertama di Indonesia. Kalaupun sudah banyak lembaga pendidikan para habib yang berdiri sebelumnya, biasanya hanya berbentuk madrasah, bukan pesantren.
Sudah tak terhitung lagi banyaknya alumnus Darun Nasyiien yang menjadi ulama di seluruh Indonesia. Rata-rata mereka selalu mengibarkan bendera Ahlussunnah Wal Jamaah ala Thariqah Alawiyin di tempat mereka berada.
Nama Habib Muhammad bin Husein bin Ali Ba’abud juga tak pernah hilang dari hati kaum muslimin kota Malang sampai saat ini. Masa Kecil di Surabaya Habib Muhammad bin Husein dilahirkan di daerah Ampel Masjid Surabaya. Tepatnya di sebuah rumah keluarga, sekitar 20 meter dari Masjid Ampel, pada malam Rabu 9 Dzulhijjah 1327 H.
Menurut cerita ayahandanya (Habib Husein), saat akan melahirkan, ibunda beliau (Syarifah Ni’mah) mengalami kesukaran hingga membuatnya pingsan. Habib Husein bergegas mendatangi rumah Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.
Habib Abu Bakar lalu memberikan air untuk diminumkan pada istrinya. Tak lama sesudah diminumkannya air tersebut, dengan kekuasaan Allah, Syarifah Ni’mah melahirkan dengan selamat. Habib Abu Bakar berpesan untuk dilaksanakan aqiqah dengan dua ekor kambing, diiringi pesan agar tidak usah mengundang seseorang pada waktu walimah, kecuali sanak keluarga Syarifah Ni’mah.Acara walimah tersebut dihadiri Habib Abu Bakar. Beliau pulalah yang memberi nama Muhammad, disertai pembacaan do’a-do’a dan Fatihah.
Saat berumur 7 tahun, Habib Muhammad berkhitan. Setelah dikhitan, Habib Husein memasukkan putranya itu ke Madrasah al-Mu’allim Abdullah al-Maskati al-Kabir, sesuai dengan isyarat dari Habib Abu Bakar. Akan tetapi anaknya merasa tidak mendapat banyak dari madrasah tersebut. Tidak lama setelah belajar, Habib Husein memasukkannya ke Madrasah Al-Khairiyah, juga di kawasan Ampel.
Pelajaran di Madrasah Al-Khoiriyah waktu itu juga tidak seperti yang diharapkan, disebabkan tidak adanya kemampuan yang cukup dari para pengajarnya. Habib Muhammad pun merasa kurang mendapat pelajaran. Tapi setelah berada di kelas empat, terbukalah mata hatinya, terutama setelah datangnya para tenaga pengajar dari Tarim-Hadramaut.
Di antara para guru itu adalah Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Hasan bin Abdulloh al-Kaf. Juga terdapat guru-guru lain yang mempunyai kemampuan cukup, seperti Habib Abdurrohman bin Nahsan bin Syahab, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor. Habib Muhammad merasakan futuh, barakah dan manfaat dari do’a-do’a Habib Muhammad al-Muhdlor di dalam majelis rouhah (pengajian)-nya.
Di tengah masa belajar itu beliau seringkali menggantikan para gurunya mengajar, bilamana mereka berudzur datang. Sampai akhirnya nasib baik itu datang padanya setelah menempuh pendidikan hampir enam tahun lamanya. Pada akhir tahun pendidikan, para pelajar yang lulus menerima ijazah kelulusan. Ijazah itu dibagikan langsung oleh Habib Muhammad al-Muhdlor.
Ternyata Habib Muhammad menempati peringkat pertama, dari seluruh pelajar yang lulus waktu itu. Bersamaan dengan itu, Habib Muhammad al-Muhdlor menghadiahkan sebuah jam kantong merk Sima kepadanya. Kebahagiaan semakin bertambah ketika Habib Muhammad al-Muhdlor mengusap-usap kepala dan dadanya sambil terus mendo’akannya.
Dalam waktu bersamaan, Habib Agil bin Ahmad bin Agil (pengurus madrasah) memberitahukan bahwa Habib Muhammad pada tahun itu akan diangkat menjadi guru di Madrasah Al-Khoiriyah, tempatnya belajar selama ini. Disamping mengajar pagi dan sore di Madrasah Al-Khoiriyah, Habib Muhammad juga banyak memberikan ceramah agama di berbagai tempat. Ia juga rajin menerjemahkan ceramah-ceramah para mubaligh Islam yang datang dari luar negeri, seperti Syeikh Abdul Alim ash-Shiddiqi dari India, dsb.
Adapun guru-gurunya yang lain di Madrasah Khairiyah adalah Habib Husein bin Ali Ba’abud, Habib Ali bin Ahmad Babgey, Syekh Abdullah bin Muhammad Ba-Mazru, Sayid Abdurrahman Binahsan bin Syihab, Habib Hasan bin Abdullah Al-Kaf, Sayid Jafar bin Zeid Aidid dan lain-lain.
Pada tahun 1348 H, tepatnya Kamis sore 22 Robi’utsani, ayahanda beliau menikahkannya dengan Syarifah Aisyah binti Sayid Husein bin Muhammad Bilfaqih. Bertindak sebagai wali nikah adalah saudara kandung istrinya, Saiyid Syeikh bin Husein Bilfaqih yang telah mewakilkan aqad kepada Qodli Arab di Surabaya masa itu, yaitu Habib Ahmad bin Hasan bin Smith. Walimatul ursy di rumah istrinya, Nyamplungan Gg IV Surabaya.
Pernikahannya dengan Syarifah Aisyah mengaruniainya enam putra dan delapan putri. Mereka adalah Syifa’, Muznah, Ali, Khodijah, Sidah, Hasyim, Fathimah, Abdulloh, Abdurrahman, Alwi, Maryam, Alwiyah, Nur dan Ibrahim.
Pada bulan Jumadil Akhir 1359 H bertepatan dengan Juli 1940, Habib Muhammad beserta keluarganya pindah ke Lawang, Malang. Di kota kecamatan inilah beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren Darun Nasyiien, yang pembukaan resminya jatuh pada bulan Rojab 1359 H (5 Agustus 1940 M). Pembukaan pondok pertama kali itupun mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan ulama tanah Jawa. Bahkan sebagian sengaja datang dari luar Jawa.
Setelah beberapa bulan setelah tinggal di Lawang, ayahanda dari Surabaya (Habib Husein) turut pindah ke Lawang dan tinggal bersamanya. Ketika penjajah Jepang datang, Habib Muhammad sempat berpindah-pindah tinggal. Mulai dari Karangploso, Simping, hingga Bambangan, yang kesemuanya masih di sekitar Lawang.
Kegiatan mengajarnya juga sempat berhenti sekitar 17 hari, karena Jepang pada waktu itu memerintahkan untuk menutup seluruh madrasah dan sekolah di seluruh daerah jajahannya. Ketika Belanda datang kembali untuk menjajah yang kedua kalinya, terpaksa madrasah ditutup lagi selama tiga bulan, mengingat keamanan yang dirasa membahayakan pada waktu itu.
Barulah sejak 1 April 1951, Habib Muhammad sekeluarga kembali ke Jl. Pandowo sampai akhir hayatnya. Tepatnya di rumah nomor 20, yang di belakangnya terdapat pondok pesantren, beserta kamar-kamar santri, musholla Baitur Rohmah dan ruang-ruang kelas yang cukup baik. Saat itu yang dipercaya sebagai panitia pembangunan sekaligus arsitekturnya adalah putra sulung beliau, Habib Ali bin Muhammad Ba’abud.
Banyak orang shalih yang telah berkunjung ke rumah dan Pondok Darun Nasyiien, diantara mereka adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Zein bin Abdillah bin Muhsin Alattas (Bogor), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (Solo), Habib Alwi bin Abdillah Al-Habsyi (Kalimantan), Habib Husein bin Abdillah Al-Hamid (Tuban), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Probolinggo), Habib Abdullah bin Umar Alaydrus (Surabaya), Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Salim bin Abdillah Assyathiri (Tarim), Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki (Mekkah) dan masih banyak lagi habaib serta ulama dari berbagai daerah untuk bersilaturahim.
BA'ALAWI
Risalah kecil ini adalah usaha seorang insan kerdil untuk memberi sedikit maklumat mengenai Ba 'Alawi.lni ialah kerana ramai keturunan Ba 'Alawi dewasa ini yang mempunyai sedikit sekali, malah ada yang langsung tiada mempunyai pengetahuan, mengenai asal usul mereka. Saya amat berharap bahawa risalah yang cetek ini dapat menyingkap serba sedikit tentang asal usul Ba 'Alawi, serta menaruh harapan agar ia dapat mencetuskan minat lalu mendorong golongan Sadah daripada keturunan Ba 'Alawi untuk mengenali susur galur mereka secara lebih dekat lagi. Alangkah baiknya kalau risalah inidapat disebar luas bagi menemui seramai keturunan Alawi yang mungkin. Semoga usaha ini diberkati Allah swt Jaafar bin Abu Bakar AI 'Aydarus. Ba 'Alawi - Siapakah Mereka ? Ba'Alawi ialah gelaran yang diberi kepada mereka yang bersusur-galur daripada Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir Ahmad bin Isa Al-Muhajir, telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadralmaut. Oleh itu anak-cucu Alawi digelar Ba 'Alawi, yang bermakna Keturunan Alawi. Panggilan Ba 'Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini daripada cabang-cabang keluarga yang lain yang berketurunan daripada Nabi Muhammad s.a.w. Ba 'Alawi juga dikenali dengan kata-nama Saiyid (Sadah bagi bilangan lebih daripada seorang). Keluarga yang bermula di Hadhramaut ini, telah berkembang dan membiak, dan pada hari ini ramai di antara mereka menetap disegenap pelusuk Nusantara, India dan Afrika. Ahmad bin Isa Al-Muhajir Ilallah Dalam abad ke-10 Masehi, keadaan huru-hara mula menyelubungi dan menggugat empayar Abbasiyah yang berpusat di Iraq itu. Kerajaan tersebut kian bergolak menuju keambang keruntuhan. Kewibawaan Abbasiyah semakin terancam dengan berlakunya pemberontakan demi pemberontakan dan ini menjejaskan ketenteraman awam. Keadaan sebegini telah membawa padah kepada keturunan Nabi Muhammad s.a.w yang dikenali dengan gelaran Sadah itu. Pada umumnya ummt Islam menghormati serta menaruh perasaan kasih sayang terhadap Sadah. lni bukan semata-mata kerana mereka ini keturunan Nabi Muhammad s.a.w, tetapi juga kerana mereka melambang pekerti yang luhur, keilmuan yang tinggi dan wara' . Kedudukan yang istimewa dimata umat Islam ini telah menimbulkan perasaan cemburu dan syak wasangka terhadap Sadah dikalangan pemerintah. Mereka juga khuatir kalau-kalau Sadah akan menggugat dan merebut kuasa daripada kerajaan Abbasiyah. Dengan tercetusnya pemeberontakan demi pemberontakan terhadap pemerintah, kewibawaan Abbasiyah pun menjadi semakin tercabar dan lemah. Keadaan ini juga turut mengancam kedudukan golongan Sadah, kerana mereka sering dikaitkan dengan setiap kekacauan yang tercetus. Dari masa ke masa golongan Sadah menjadi sasaran pemerintah. Ramai diantara mereka yang ditangkap dan dibunuh berdasarkan apa saja alasan .Namun majoriti Sadah bersikap sabar dan menjauhkan diri dari kelompok yang menimbulkan kekacauan. Daripada pengalaman yang lalu golongan tersebut yakin bahawa penglibatan diri di dalam politik akan berakhir dengan kekecewaan. Ahmad bin Isa al-Muhajir meninggalkan Kota Basrah bersama seramai 70 orang, yang terdiri dari ah1i-ah1i keluarga dan pengikut-pengikut beliau. Pada mulanya kumpulan AlMuhajir ini pergi ke Madinatul Munawwarah dan tinggal di sana selama setahun. Pada tahun berikutnya setelah menunaikan fardhu Haji, Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan rombongan meninggalkan Kota Madinah menuju ke Yaman. Mereka singgah di Al Jubail di Lembah Dau'an, kemudian di Al-Hajrain, dan seterusnya menetap di suatu tempat ,yang benama Al Husaisah. Ahmad bin Isa Al Muhajir Ilallah wafat pada tahun 345.H/956 M. Permulaan di Hadhralmaut Ahmad bin Isa rnemilih Hadhramaut untuk berhijrah, rneskipun Hadhramaut rnerupakan suatu kawasan tandus dan kering kontang di Selatan Yaman. Kawasan tersebut pada zaman itu, dikatakan terputus daripada dunia luar. Tentunya banyak persoalan yang timbul tentang mengapa Ahmad bin Isa memilih kawasan sebegini untuk berhijrah. Pada zahimya, pemilihan kawasan tersebut mungkin didorong oleh hasrat beliau untuk hidup di dalam keadaan aman bersama keluarga dan pengikutnya, atau keazaman beliau untuk membina sekelompok masyarakat baru di suatu kawasan baru bersesesuaian dengan kehendak syiar Islam yang didokongi oleh golongan Sadah selama ini. Akan tetapi sebelum sampai ke Hadhramaut Ahmad bin Isa dan rornbongan terlebih dahulu berada di Madinah, tempat yang tenang dan aman lagi sesuai bagi tujuan beribadah dan membina ummah. Namun daripada Madinah beliau dan rombongan bertolak ke Al-Husaisah. Malah di Al-Husaisah Ahmad bin Isa telah pun membeli kebun buah-buahan yang luas. Akan tetapi pada akhirnya beliau memilih Hadhramaut sebagai tempat berhijrah. Sebagai seorang Imam Mujtahid mungkin keputusan yang dibuat beliau itu didorong oleh perkara yang diluar pengetahuan kita, Wallahualam. Penghijrahan Ahmad bin Isa A1 Muhajir ke Hadhramaut bukanlah bermakna berakhirnya ranjau dan rintangan. Di awa1 penghijrahan beliau, Alhmad bin Isa Al-Muhajir, bersua dengan ancaman daripada golongan Mazhab Ibhadiah yang mernpengaruhi kawasan tersebut. Namun setelah gagal untuk mencapai persefahaman dan perdamaian dengan pihak Ibhadiah, Ahmad bin Isa A1-Muhajir terpaksa mengangkat senjata menentang mereka. Berbanding dengan kaum Ibhadiah, bilangan pengikut Ahmad bin Isa Al-Muhajir adalah kecil. Akan tetapi semangat kental dan kecekalan, yang ditunjukkan oleh Al-Muhajir dalam rnenentang kaum Ibhadiah ini telah menarik perhatian dan simpati penduduk-penduduk Jubail dan Wadi Dau'an yang bertindak rnenyokong Al-Muhajir. Dengan sokongan penduduk-penduduk tersebut kaum Ibhadiah dapat di singkirkan dari bumi Hadramaut. Cara hidup yang dianjurkan oleh Ahmad bin Isa Al-Muhajir, iaitu kehidupan harian yang berdasarkan A1 Qur'an dan Sunnah itu, senang -diterima oleh masyarakat ternpatan. Lambat laun cara ini rnenjadi norma hidup di dalam rnasyarakat tempatan. Malah beberapa tokoh terkemuka di kalangan Ba' Alawi yang menjalani hidup sepertimana para sahabat di zaman Rasulullah s.a.w, mempunyai pengaruh yang positif ke atas masyarakat Hadhramaut. Tokoh-tokoh berkenaan lebih dikenali dengan panggilan Salaf. Walaupun persekitaran baru mereka masih tidak sunyi dengan keadaan huru-hara, masyarakat Ba' Alawi masih boleh menjalankan kehidupan yang aman tenteram. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang merupakan cara hidup yang lumrah bagi keturunan Rasulullah s.a.w daripada Hassan dan Hussain. Mereka sentiasa dihormati dan disanjung tinggi di seluruh pelusuk Dunia Islam, lebih-lebih lagi di Hadhramaut. Kehormatan yang diterima ini serba sedikit berpunca daripada amalan golongan Ba 'Alawi yang berjalan tanpa membawa sebarang senjata, sepertimana yang dianjurkan oleh datuk mereka, Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Tambahan pula golongan ini dihormati dan disanjung oleh kerana mereka merupakan golongan yang berilmu lagi wara'. Apabila Ahmad bin Isa AI-Muhajir serta rombongan (seramai kurang lebih 70 orang ahli keluarga dan pengikut) meninggalkan Basrah , mereka membawa bersama mereka harta kekayaan yang banyak. Dengan harta ini mereka dapat memperolehi tanah yang luas yang digunakan untuk pertanian. Dan sewajarnyalah yang menjadi kegiatan utama golongan Ba 'Alawi di Hadhramaut ini ialah pertanian. Sementara itu mereka juga bebas untuk beribadah dan membina masyarakat berdasakan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Fasa Perkembangan Ba 'Alawi Perasaan golongan Ba' Alawi terhadap kampung halaman mereka di Basrah masih kuat dan menebal, walaupun mereka telah memilih untuk membina penghidupan baru di Hadramaut. Oleh itu tidak hairanlan sekiranya didapati ramai dikalangan Ba 'Alawi yang selalu berulang alik di antara Hadhramaut dan Basrah untuk menziarahi sanak saudara yang masih berada di Basrah. Hubungan diantara Ba 'Alawi dengan Basrah berterusan. Masa kini masih terdapat keturunan saudara AlMuhajir, iaitu Muhammad bin Isa di sekitar Basrah. Salah suatu ciri hidup golongan Ba ' Alawi ialah mereka ingin bebas bergerak dan tidak suka terkongkong di suatu daerah sahaja. Tambahan pula, di tempat seperti Hadhramaut peluang untuk mencari rezeki terlalu terhad. Ini menyebabkan individu mahupun kumpulan Ba 'Alawi sanggup berpindah memulakan hidup ditempat-tempat yang lain seperti Yaman, Syam (Syria), dan Iraq. Tambahan pula Hadhralmaut merupakan tempat yang tidak mempunyai pemerintahan yang stabil, dan oleh itu tidak sunyi daripada tercetusnya perbalahan dan pergaduhan di antara kabilah-kabilah yang menjadi penghuni tetap di kawasan tersebut. Sejarah perkembangan Ba 'Alawi, mengikut pandangan Sayid Ahmad bin Muhammad Assyathiri boleh dibahagikan kepada empat fasa, setiap fasa mempunyai cirinya yang tersendiri. Perkembangan ini adalah bergolak di sekitar beberapa tokoh Ba 'Alawi, serta juga pengalaman jatuh bangunnya mereka dalam menempuhi kehidupan yang sering berubah itu. Namun begitu, golongan Ba 'Alawi masih berpegang teguh kepada keperibadian mereka, dan perkara yang mempegaruhi kecekalan golongan ini ialah istiqamah kepada ajaran AlQur'an dan Sunnah. Fasa perkembangan Ba 'Alawi boleh dihuraikan seperti berikut: Fasa Pertama Fasa ini bermula dengan zaman Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan berakhir dengan Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali, iaitu jangka masa di antara abad ke-3 hingga abad ke-7 Hijrah. Pada zaman tersebut pemimpin dan tokoh-tokoh Ba 'Alawi dikenali dengan gelaran Imam. Tokoh-tokoh pada masa itu digelar dengan panggilan Imam Mujtahid, iaitu mereka yang tidak terikat dengan mana-mana mazhab. Tokoh-tokoh terkemuka pada masa itu ialah keturunan daripada Ubaidullah bin Ahmad bin Isa AlMuhajir, melalui 3 orang putera beliau, iaitu Bashri, Jadid dan Alawi. Namun begitu, keturunan Bashri dan Jadid tidak berhayat panjang. Mereka hanya dapat mempelopori dan mengembangkan penyebaran ilmu hinggalah ke tahun 620an H/1223M. Keturunan Bashri dan Jadid yang terkemuka ialah Imam Salim bin Bashri (wafat pada 604H/1208M) dan Imam Abu Hassan Ali bin Muhammad bin Jadid (wafat pada 620H/1223M). Tradisi pengajian Ilmu, bagaimanapun di teruskan oleh keturunan Alawi, dan yang lebih terkenal di antara mereka ialah Imam Muhammad bin Ali bin Alawi. Beliau lebih dikenali dengan gelaran Sahib Marbat (wafat pada 556H/1161M). Tradisi keilmuan, ^(08) <#08> ini juga diteruskan oleh dua orang putera Sahib Marbat, iaitu Imam Alwi dan Imam A1i, dan oleh putera Imam Ali, iaitu Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali, serta tokoh-tokoh yang datang kemudian daripada mereka. Fasa Ke-Dua Zaman yang dikenali sebagai fasa ke-dua ialah di antara abad ke-7 hingga abad ke-11 Hijrah. Pada zaman tersebut tokoh-tokoh Ba 'Alawi yang terkemuka disebut dengan nama As-Syaikh. Zaman ini bertepatan dengan era Al-Faqih Muqaddam Muhammad hingga ke zaman sebelum Habib Al-Qutub Abdullah bin A1awi Al-Haddad. Di antara ulama-ulama yang terkemuka di zaman ini ialah Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali (wafat pada 653H/1255M), As-Saqqaf (wafat 819H/1416M), Al-Mahdar (wafat 833H/1429M), Al-'Aidarus (wafat 865H/1460M), dan Zain Al-Abidin Al-'Aidarus (l041H/1631M). Pada ketika tersebut bilangan Ba 'Alawi sudah menjadi bertambah ramai dan mereka mulai dikenali dengan nama kabilah masing-masing seperti As-Saqqaf, Al-Mahdar, Al-'Aidarus, Al-Habisyi, Al-Junid, Jamalullail dan banyak lagi. Fasa Ke-Tiga Zaman yang dikenali sebagai fasa ke-tiga ialah di antara abad ke-11 dan abad ke-14 Hijrah. Pada zaman tersebut tokoh-tokoh Ba 'Alawi dikenali dengan panggjlan Al-Habib. Ulama-ulama yang terkemuka pada zaman ini ialah Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (wafatI132H/1717M), Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Habib Hassan bin Salleh Al-Bahr, dan Habib Abdurrrahman Bilfagih (wafat 1163H/1749M) dan beberapa orang tokoh yang lain. Pada masa ini juga keturunan keluarga Ba 'Alawi terus membiak. Keadaan ini membawa kepada migrasi (perpindahan keluar) yang begitu pesat. Pada abad ke-11 dan ke-12 berlaku penghijrahan ke India , Timur Jauh (Far East), Afrika Timur dan Hijjaz, sementara di abad ke-13 berlaku pula penghijrahan ke Asia Tenggara (terutama ke Indonesia dan Malaysia). Kaum Ba' Alawi mewarisi semangat suka merantau. Mereka juga tidak gemar diri mereka terkongkong di suatu kawasan. Namun begitu Ba 'Alawi juga merupakan golongan yang senang menyesuaikan diri dengan penduduk tempatan dimana sahaja mereka merantau. Akan tetapi, seberapa jauhnya mereka daripada Hadhramaut, hubungan erat dengan kampung halaman induk masih dikekalkan. Mereka yang menjalinkan perhubungan melalui perkahwinan dengan penduduk tempatan dan masih menghantarkan anak-anak mereka ke Hadhramaut, terutama ke Tarim, untuk menuntut ilmu secara tradisi yang diasaskan oleh pelopor-pelopor Ba 'Alawi. Perubahan Yang Ketara Pada penghujung fasa ke-tiga didalam Sejarah Ba 'Alawi, perubahan ke arah kemunduran dikalangan Ba 'Alawi di seberang laut dapat dikesan. Walaupun tradisi pulang ke Hadhramaut untuk menziarahi keluarga masih diamalkan, ramai pula di antara mereka yang telah bermastautin di India dan Asia Tenggara, mula menampakkan proses asimilasi dengan masyarakat tempatan, iaitu menerima dan menyerap budaya dan tradisi persekitaran. Sementara golongan Ba 'Alawi pada mulanya menjauhkan diri daripada kegiatan politik melainkan perkara-perkara yang menyentuh kebajikan dan ketenteraman umum, mereka yang terkemudian mula mencebur diri dengan politik. Ada di antara golongan Ba 'Alawi yang mempunyai hubungan rapat dengan raja-raja dan penguasa tempatan, dan telah menggunakan pengaruh mereka. Pernah diceritakan bahawa tokoh- tokoh Al-Mahdar, Al-'Aidarus, Jamalullail dan A1Haddad, mempunyai hubungan yang intim dengan pihak istana, sehinggakan raja-raja. sentiasa merujuk kepada mereka untuk mendapat nasihat. Budi pekerti yang luhur, disiplin diri dan didikan yang menjadi tradisi dikalangan Ba 'Alawi adalah faktor utama meyebabkan mereka dihormati dan disanjungi, sementara ciri peribadi istimewa sebilangan mereka membolehkan mereka diterima sebagai pemimpin masyarakat tempatan. Ada pula dikalangan mereka yang berkahwin dengan ahli keluarga diraja, dan pada akhimya mereka diangkat menjadi raja, contohnya, Syahab di Siak dan Jamalulail di Perlis. Beberapa kesultanan juga diasaskan oleh tokoh- tokoh Ba 'Alawi. Sebagai contoh, Al-'Aidarus menubuhkan kerajaan di Surat (India), dan di Kubu (Kalimantan), Al-Qadri dan Bin Syaikh Abu Bakar di Kepulauan Comoros, A1Qadri di Pontianak (Kalimantan) dan Balfagih di Filipina. Fasa Ke-Empat Zaman yang dikenali dengan Fasa ke-empat ini ialah di antara abad ke-14 Hijrah hinggalah dewasa ini. Perubahan yang bermula dipenghujung Fasa ketiga menjadi semakin ketara di zaman ini. Dalam beberapa aspek hidup, golongan Ba 'Alawi telah menempuh keruntuhan dari segi pegangan moral dan etika yang diasaskan oleh pelopor-pelopor di Hadhramaut dahulu. Zaman ini bertepatan dengan kemunduran Dunia Islam keseluruhannya, akibat dilanda budaya Barat. Golongan muda Ba 'Alawi, terutama mereka yang bennastautin di tanah jajahan Inggeris dan Belanda mula meninggalkan pendidikan tradisional berasaskan Al-Qur'an dan Sunnah, dan memilih pendidikan Barat. Walaupun masih terdapat tokoh-tokoh Ulama Ba 'Alawi dikalangan mereka, namun bilangan mereka adalah terlalu sedikit berbanding dengan masyarakat Ba 'Alawi amnya. Keadaan sedemikian telah menghakiskan status Ba' Alawi keseluruhannya. Ba 'Alawi Masa Kini Keturunan Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir pada masa kini membiak dengan banyaknya. Mereka bemastautin di sebahagian besar pelusuk dunia. Mereka ialah keturunan kelompok-kelompok Ba 'Alawi yang keluar dari Hadhramaut. Mereka dikenali dengan berbagai gelaran seperti Syed atau Saiyid, seperti di Indonesia dan di Malaysia. Mereka juga dikenali dengan nama Habeeb seperti di India, Sidi, Syarif, Tuanku, Engku, Wan dan beberapa panggilan lagi. Namun begitu disebabkan beberapa faktor ramai pula keturunan Ba 'Alawi yang telah kehilangan identiti mereka. Kebanyakkan dari golongan ini menganggap mereka sebagai orang tempatan dengan mengamalkan budaya tempatan dan melupakan budaya datuk nenek mereka. Ramai pula keturunan Ba 'Alawi yang berakar umbi di tempat-tempat yang mereka tinggal kini, sejak datuk nenek mereka berhijrah seawal-awal abad ke-15 Masehi dahulu. Mereka tidak lagi mengenali asal-usul mereka, dan perhubungan mereka dengan negeri Ibunda telah begitu lama terputus. Walaupun ramai ahli keluarga Ba 'Alawi yang telah hilang identiti, namun ramai pula yang masih berpegang teguh dengan asal-usul mereka dan mengambil berat tentang silsilah keluarga. Mereka juga masih menjalin hubungan dengan saudara mara di Hadramaut. Golongan ini terdiri daripada anak cucu mereka yang keluar merantau dalam abad ke-18 dan ke-19. Ramai daripada mereka terutama anak cucu Ba 'Alawi yang berhijrah terkemudian dan tinggal di kawasan-kawasan berhampiran pelabuhan. Mereka masih berpegang teguh dengan beberapa tradisi Ba 'Alawi, dan ada yang masih fasih berbahasa Arab. Oleh itu, sayogianya kita bertemu dengan kelompok keturunan Ba 'Alawi yang masih berpegang dengan tradisi dan amalan datuk nenek mereka, maka kita akan bersua dengan amalan seperti membaca Maulid Diba'ii, Ratib Haddad, Ratib Al 'Attas dan lain-lain lagi. Sepekara yang menggembira dan menggalakkan ialah bahawa mereka daripada golongan ini giat menghidupkan kembali dan mengembang tradisi ini di kalangan keturunan Ba 'Alawi yang sudah jauh terpisah daripada kelompok asal. Ini dilakukan dengan menarik dan menggalakkan mereka menghadiri majlis Ta'lim atau Rohah, sekaligus mengukuhkan silaturrahim diantara mereka. Namun begitu masih ramai lagi daripada keturunan Ba 'Alawi yang hanyut di bawa arus kemodenan dan kejahilan, dan belum lagi terdedah kepada amalan murni Ba 'Alawi. Mereka ini amat perlu mendapat perhatian. Seorang ulama besar yang wafat di Jakarta, iaitu Habib Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab, pemah melahirkan harapan agar generasi-generasi yang datang kemudian dari keturunan 'Alawi akan memegang teguh kepada agama Islam, mejaga pusaka nenek-moyang, dan jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Marilah kita sama-sama berdo'a agar Allah s.w.t memberi taufik dan hidayah semoga mereka yang terpisah ini akan jua balik ke pangkal jalan mengenali diri dan asa1 usul mereka, serta menghargai warisan mereka yang sebenarnya. Sesuai dengan hadith Rasulullah s.a.w mengenai pentingnya mempelajari tentang nasab, kita menaruh harapan yang mereka juga akan mengambil berat tentang nasab masing-masing.
0PENERANGAN
PENERANGAN 01 1. Ahmad bin Isa bin Muharnmad An-Naqib bin Ali 'Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Ali dan Saiyidatina Fatimah Azzaharah binti Saiyidina Muhammad saw. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 02 2. Ba 'Alawi juga dikenali dengan nama Bani Alawi. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 03 3. Al-Husaisah terletak diantara Saiwon dan Tarim tetapi dewasa ini tempat tersebut telah tertimbus dibawah timbunan padang pasir. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 04 4. Ibhadiah adalah pecahan daripada golongan kaum Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibhad. Kumpulan ini telah beberapakali memberontak menentang Khalifah Umayyah. Pemberontakan yang terkenal ialah pemberontakan yang diketuai oleh Abdullah bin Yahaya pada tahun 129 Hijrah. Kaum Ibhadiah seterusnya meluaskan pengaruh mereka ke Oman, Yaman dan Hadhramaut. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 05 5. Panggilan Salaf, pada umumnya, adalah ditujukan kepada mereka yang hidup di dalam abad pertama hingga ke-3 Hijrah, atau lebih tepat lagi ditujukan kepada para sahabat Nabi saw., Tabi'in dan Tabi'it-tabiin. Walau bagaimana pun para ulama Hadhralmaut menggunakan panggilan Salaf ke atas ulama-ulama terawal mereka yang soleh. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 06 6. Sirah As-Salaf Min Bani 'Alawiy Al-Husainiyin, dicetak oleh Alam Ma'rifah, Jeddah 1405 Hijrah.
PENERANGAN 07 7. Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali ialah personaliti Sadah yang menumpukan khusus kepada ilmu Tasauf di dalam abad ke-13 Masehi. Beliaulah yang bertanggung- jawab mewajibkan golongan Sadah meninggalkan senjata dan memberi tumpuan sepenuhnya kepada agama dan akhlak. Setelah itu ciri utama yang mempengaruhi pemikiran dan cara hidup golongan Sadah ini ialah Ilmu Tasawuf. Penulis-penulis dari golongan Sadah banyak menumpukan karya mereka dalam bentuk puisi. sama ada berbentuk agama mahupun sekular, dan juga kepada sejarah keturunan (silsilah) - Wadi Hadhramaut and The Walled City of Shibam, karya Ronald Lewcock, dan dipetik daripada cetakan UNESCO 1986.
PENERANGAN 08 8. Dalam jangka masa inilah Ba 'Alawi menerima Mazhab Syafi'ie sebagai anutan dan merekalah yang seterusnya bertanggung-jawab menyebarkan ajaran Imam Syafi'ie ke negeri-negeri di pesisiran pantai Lautan Hindi.
PENERANGAN 09 9. Abdurrahman As-Saqqaf bin Muhammad Mawla Dawilah, yang lebih dikenali dengan gelaran As-Saqqaf (bermakna atap) oleh kerana keilmuan agama beliau begitu mendalam sehingga apabila dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain, 'alimnya umpama atap dengan lantai. As-Saqqaf adalah seorang hartawan akan tetapi kekayaan beliau tidak menghalang dirinya menjadi seorang yang wara'. Beliau membelanjakan sebahagian besar hartanya untuk tujuan agama. Beliau membina 10 buah masjid dan telah memperuntukkan waqaf bagi membiayai perjalanan masjid tesebut.
PENERANGAN 10 10. Umar Al-Mahdar bin Abdurrahman As-Saqqaf, ialah seorang ulama yang terkenal dengan sifat dermawan beliau. Rumah beliau sentiasa dipenuhi dengan tetamu-tetamu yang berkunjung untuk bertanya mengenai hal agama ataupun hal duniawi. Beliau juga dikenali sebagai seorang yang menanggung sara hidup beberapa keluarga yang susah. Beliau membina tiga buah masjid.
PENERANGAN 11 11. Abdullah bin Abi Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqqaf masyhur dengan gelaran Al-'Aidarus. Beliau baru menjangkau usia 10 tahun apabila ayah beliau meninggal dunia. Oleh itu beliau dipelihara oleh paman beliau iaituAl-Mahdar yang sekali gus menjadi guru beliau. Abdullah dididik oleh paman beliau didalam ilinu Syariat, Tasawuf dan Bahasa Arab. Semasa wafatnya Al-Mahdar Al-'Aidarus baru berusia 25 tahun. Jemaah Ba' Alawi sebulat suara bersetuju untuk melantik Imam Muhammad bin Hassan Jamalullail sebagai naqib baru menggantikan Al-Mahdar , akan tetapi Imam Muhammad Jamalullail menolak. Sebaliknya Imam Muhammad meminta Al' Aidarus dilantik sebagai naqib. Abdullah Al-'Aidarus adalah seorang ulama' berkaliber tinggi. Beliau bertanggungjawab menyebar luas ilmu dan dakwah, tekun mengisi waktu beliau dengan ibadah. Beliau juga menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam buku Almasyra' Arrawiyfi Manaqib Assadah Al-kiram Bani Alawiy,beliau disebutkan bahawa, " dalam kedermawanannya bagaikan seorang amir, namun dalam da1am tawaddu' bagaikan seorang fakir ". Beliau sangat senang menampakkan nikmat Allah ke atas dirinya dengan mengenakan pakaian indah, kenderaan rang megah dan rumah kediaman yang mewah.
PENERANGAN 12 12. Ali Zain Al-Abidin bin Abdullah bin Syeikh Al-'Aidarus adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya ialah ayahnya sendiri. Beliau bertindak sebagai murid dan pelayan ayahnya, dan tidak pernah berpisah dengan ayahnya selama ayahnya rnasih hidup. Setelah ayahnya wafat, Zain Al-Abidin menggantikan ayahnya sebagai naqjb. Beljau mencurahkan sepenuh tenaga dan pemikiran untuk kepentingan umum dan Ba 'Alawi khususnya. Beliau dihormati oleh Sultan-sultan di Yaman, dan dalam menjalankan urusan pentadbiran, mereka merujuk kepada beliau sebelum membuat apa-apa keputusan. Ini menyebabkan Zain Al-Abidin mempunyai ramai musuh. Akan tetapi kebijaksanaan beliau dalam mengendalikan musuh-musuh tersebut dapat menawan hatI mereka, yang pada akhirnya musuh bertukar menjadi sahabat. Selain daripada mempunyai pengetahuan dan kewibawaan yang tinggi di dalam ilmu Syari'at, Tasawuf dan Bahasa Arab, beliau juga mempunyai pengetahuan dan kemahiran yang mendalam dalam bidang pertanian yang diajarkan kepada ramai. Diakhir hayatnya, beliau juga terkenal sebagai seorang tabib yang berwibawa.
PENERANGAN 13 13. Dalam tahun 1930-an adalah dianggarkan bahawa sekurang-kurangnya 13,000 orang daripada keturunan Ba 'Alawi berada di Hyderabad, India. Ramai di antara mereka menjadi anggota dan pegawai tentera Nizam Hyderabad (Nizam's Arabian Regiment). Sumber dipetik daripada buku "Hadramaut -Some of Its Mysteries Unveiled oleh D. Van Der Meulen dan H. Von Wissmann.
PENERANGAN 14 14. Muhanunad bin Ahmad As-Syathiri, didalam buku beliau, Sirah As-Salaf Min Bani Alawiy AI- Hussainiyin, untuk membuktikan perkara ini, telah meriwayatkan bahawa Sultan Badr bin Thuwairiq pernah menzahirkan hasrat baginda untuk turun daripada takhta dan menyerahkan kuasa dan pemerintahan kepada Al-lmam Hussain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim (wafat lO44H/1635M). Akan tetapi Imam Hussain secara bijaksana menolak dan meyakinkan baginda supaya terus memerintah, serta berjanji memberi segala bantuan dan nasihat kepada baginda.
PENERANGAN 15 15. Lihat Soal Jawab Agama Islam oleh Prof Dr. Hamka. penerbitan Pustaka Melayu Baru, Kuala Lumpur. 1978. m.s 58
PENERANGAN 16 16. Dari Abu Hurairah r.a .katanya bersabda Rasulullah s.a.w : "Pelajarilah olehmu tentang nasab-nasab kamu agar dapat terjalin dengannya tali persaudaraan kamu. Sesungguhnya menjalin tali persaudaraan itu akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta, dan memanjangkan umur". Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya. Tarmizi dan Al-Hakim.
Al Imam Muhammad bin Ali Shahib Al Hauthoh
Yang pertama kali mendapat gelar Aidid ialah waliyyullah Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi Qasam…………Rasulullah Muhammad SAW.
Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh ini adalah generasi ke 23 dari Rasulullah SAW.
Gelar yang disandangnya karena beliau adalah orang yang pertama tinggal dilembah Aidid yang tidak berpenduduk disebut “ Wadi Aidid “, yaitu lembah yang terletak di daerah pegunungan sebelah barat daya
Penduduk disekitar lembah tersebut mengangkat Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh sebagai Penguasa Lembah Aidid dengan gelar Muhammad Maula Aidid . Maula berarti Penguasa.
Al-Imam Muhammad Maula Aidid pernah ditanya oleh beberapa orang “Wahai Imam mengapa engkau mendirikan sebuah Masjid yang juga dipakai untuk shalat Jum’at, sedangkan di lembah ini tak ada penghuninya ? “. Lalu beliau menjawab “ nanti akan datang suatu zaman dimana zaman tersebut banyak sekali Umat yang datang kelembah ini, datang dan bertabaruk.
Alhabib Umar bin Muhammad Bin Hafidz pada kesempatan ziarah di Zambal, menceritakan ucapan Al-Imam Muhammad Maula Aidid tersebut dihadapan murid-muridnya, kemudian ia berkata didepan maqam Al-Imam Muhammad Maula Aidid “ Wahai Imam kami, semua yang hadir dihadapanmu ini menjadi saksi akan ucapanmu ini “.
Al-Imam Muhammad Maula Aidid dilahirkan di
Abdullah dan Abdurrahman mendapat gelar Bafaqih yang kemudian menjadi leluhur “Bafaqih”. Diberi gelar Bafaqih karena Beliau alim dalam ilmu fiqih sebagaimana ayahnya dikenal masyarakat sebagai seorang ahli ilmu fiqih. Sedangkan anaknya yang lain yang bernama Ali gelarnya tetap Aidid yang kemudian menjadi leluhur “ Aidid “.
Al-Imam Muhammad Maula Aidid mempunyai enam 6 orang, yaitu :
1. Ahmad Al-Akbar, keturunannya terputus, beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan, mendalami ilmu pengobatan dan ilmu analisis. Lahir dan wafat di Tarim. Wafat tahun 862 H. bersamaan tahun wafat dengan ayahnya.
2. Abdurrahman Bafaqih, mempunyai 5 orang anak lelaki, 3 diantaranya meneruskan keturunannya, yaitu :
· Ahmad
· Zein
· Atthayib
Abdurrahman Bafaqih wafat di Tarim tahun 884 H.
3. Abdullah Al-A’yan An-Nassakh Bafaqih mempunyai tiga orang anak lelaki :
· Alwi (tidak punya keturunan)
· Husein (keturunan di Qamar), mempunyai seorang anak yang bernama Sulaiman yang lahir di Tarim dan wafat di Al-Mahoo tahun 1009 H. Sulaiman ini mempunyai anak Husin, Husin mempunyai anak Abubakar. Al-Habib Abubakar ini menjadi Sultan di kepulauan Komoro di Afrika Utara.
· Ahmad, mempunyai dua orang anak lelak
a. Sulaiman
b. Ali, mempunyai dua orang anak lelaki :
- Abdurrahman
- Muhammad, lahir di Tarim Kemudian Hijrah dan menetap di Kenur (
dan wafat disana. Al-Habib Muhammad mempunyai 7 orang anak :
- Ahmad (tidak diketahui)
- Umar, wafat di
- Abdullah, wafat di Khuraibah.
- Husin Lahir dan wafat di tarim tahun 1040 H.
- Abubakar lahir di Tarim dan wafat di Qoidon tahun 1053 H.
- Ali wafat di Khuraibah.
Abdullah Bafaqih wafat selang beberapa tahun wafatnya Abdurrahman Bafaqih dalam perjalanan dari
4. Ali Aidid wafat tahun 919 H, mempunyai tiga orang anak lelaki :
· Muhammad Al-Mahjub, wafat tahun 973 H.
· Abdullah.
· Abdurrahman wafat tahun 976 H.
5. Alwi Bafaqih, keturunannya terputus pada generasi ke 7 tahun 1123 H.
6. Alfaqih Ahmad (tidak punya keturunan)
Waliyullah Muhammad Maula Aidid seorang Imam besar pada zamannya dan hafal Al-Qur’an sejak usia muda. Guru-Guru beliau :
1. Syech Muhammad bin Hakam Baqusyair, di Qasam
2. Al-Faqih Abdullah bin Fadhal Bolohaj
3. Al-Muqaddam Al-Tsani Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah. Beliau belajar kepadanya 20 tahun.
4. Al-Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail
5. Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Khatib
6. Anak-anak dari Al-Imam Abdurrahman Assegaf
7. Al-Imam Muhammad Maula Dawilah (berdasarkan kitab Al-Ghurror)
Murid-muridnya :
1. Abdullah Alaydrus bin Abubakar Assakran
2. Ali bin Abubakar Assakran
3. Muhammad bin Ahmad Bafadhaj
4. Muhammad bin Ahmad Bajarash
5. Umar bin Abdurrahman Shahib Al-Hamra
6. Muhammad bin Ali bin Alwi Al-Khirid (Shahib kitab Al-Ghurror)
7. Anak-anaknya.
Dalam Kitab Al-Ghurror halaman 358 Diceritakan oleh Alfaqih Ali bin Abdurahman Al-Khatib :
Aku bermaksud mendatangi Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid dari rumahnya ke Wadi, tidak aku temukan beliau disana. Maka ketika aku tengah berada di Wadi tersebut, tiba-tiba aku mendengar suara gemericik air di selah bukit, padahal tidak ada awan mendung ataupun hujan. Maka aku berniat mendekat untuk menjawab rasa penasaranku terhadap bunyi tadi yang datangnya dari Wadi. Seketika aku melihat Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid sedang duduk dan air yang muncrat dari celah-celah bukit mendatanginya. Lalu Muhammad bin Ali Shohib Aidid menyuruh untuk aku duduk. Lalu aku mengambil tempat untuk minum air tersebut. Setelah itu aku mandi dan berwudlu . Selesai itu kami berdua meninggalkan Wadi . Setelah sampai dirumah , keluargaku bertanya : “ Siapa yang telah menggosokkan Ja’faron ditubuhmu ? “. Aku menjawab tidak ada yang menggosokkan Ja’faron ketubuhku. Keluargaku berkata : “Ja’faron itu tercium dari badan dan bajumu !”. Maka aku menjawab beberapa saat yang lalu aku mandi dan mencuci bajuku bersama Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid. Saat itu juga aku bersihkan harum ja’faron itu dengan air dan tanah, tetapi harumnya tidak bisa hilang hingga waktu yang lama.
Dalam Kisah Al-Masra Al-Rawi Jilid I hal 399 diceritakan
Bahwa Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid banyak membaca Al-Qur’an disetiap waktu terutama surat Al-Ikhlas. Beliau adalah orang yang zuhud . Beliau memandang dunia hanya sebagai bayangan yang cepat berlalu. Banyak fakir miskin dan tamu yang datang kepadanya dengan berbagai keperluan, dan beliau selalu memenuhinya. Ahklaknya lebih lembut dari tiupan angin. Beliau dikuburkan di pemakaman Jambal disisi kakeknya Muhammad bin Abdurrahman bin Alwi.
Menurut kisah Syarh al-Ainiyah hal.206
Tertulis bahwa Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid mendawamkan bacaan surat Al-ikhlas antara shalat Maghrib dan Isya sebanyak 3000 kali.
Waliyyullah Muhammad Maula Aidid wafat di kota Tarim pada tahun 862 Hijriyyah. Dimakamkan di Pemakaman Jambal disisi kakeknya Muhammad bin Abdurrahman bin Alwi.
Ayah beliau Ali Shahib Al-Hauthoh, wafat tahun 830 Hijriyyah Gelar Shahib Al-Hauthoh yang disandangnya karena beliau tinggal di Hauthoh yang terletak sebelah barat kota Tarim, Hadramaut.
Diantara silsilah yang melalui Al-Imam Abdurrahman bin Alwi (Ammil Faqih) antara lain :
1. Bin Semith 5.Al-Qoroh 9.Al-Hudaili
2. Baabud Magfun 6.Aidid 10.Basuroh
3. Ba Hasyim 7.Al-Haddad 11.Bafaqih
4. Al-Baiti 8.Bafaraj 12.BinThahir
Penyusun : Alwi Husein Aidid.
Sumber dari : Habib Idrus Alwi Almasyhur, Habib Alwi Almasyhur dan Habib Zein Alwi bin Taufik Aidid.

